SATU BUMI Kegiatan Swadaya Mapala Satubumi – SATU BUMI

SATU BUMI

Mahasiswa Penggiat Alam Bebas Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Kegiatan Swadaya Mapala Satubumi

October 26, 2016 by admin

“Mendaki dengan keringat yang menderas, mencapai puncak, lalu kemudian menggelinding turun. Tak pernah ada klimaks dan tak pernah aku merasa selesai karena selalu berpikir tentang petualangan pendakian berikutnya. Itu-itu saja. Sudah sembilan tahun waktu pertama kali aku mendaki gunung dan sejak saat itu, hampir setiap minggu aku seperti kecanduan, rasanya harus berkegiatan outdoor, entah itu mendaki gunung, menelusuri gua, mengarungi sungai, atau kadang yang paling aku tak mahir adalah memanjat tebing.

Selalu ada sudut-sudut bumi yang teramat sensual bagi orang-orang sepertiku dan beberapa teman yang katanya “anak alam” dan menyebut diri pecinta alam. Selalu ada kebanggaan mengalahkan lelah dan ego diri. Itu bisa berupa puncak-puncak gunung yang menuding langit, atau liang gua yang kelam seperti ada makhluk menunggu kita di sana. Atau tebing yang tegak lurus menawan seakan minta dijamah, jeram deras yang tak pernah bisa berkompromi. Makin bergejolak ia, makin bergairahlah kita yang menyusurinya. Atau angkasa yang tak bertepi? Samudra yang dalam? Ah, banyak sekali sudut-sudut dan bentang alam yang indah menawan, betapa beruntungnya manusia. Selalu begitu, di setiap perjalanan, di setiap kelelahan jeda menuju klimaks, di situlah letak rasa itu. Rasa yang sulit disimpulkan, tak ada kata yang dapat mewakili perasaan itu. Hanya ada gairah aneh saat energi itu kemudian akan menyusut lagi ditelan rutinitas kehidupan. Begitu seterusnya, berulang-ulang. Foto-foto eksotis, cerita-cerita heroisme, bahwa kita adalah sekumpulan manusia unik, berani, kuat perkasa dan tahu apa yang terbaik buat diri kita, berani menjadi beda. Pada saatnya nanti alam akan kembali memanggil, berbisik dan terus mengganggu. Dan kita datang lagi, mencumbuinya lagi, terpuaskan lagi, dan pulang lagi. Seperti candu yang tak pernah selesai. Seegois itukah aku? Sesederhana itukah hidup? Kalau hanya sesederhana itu, maka sebutan yang paling tepat bagi manusia seperti kami adalah penikmat alam! Bukan pecinta alam.” (Dikutip dari buku Sokola Rimba karya Butet Manurung)

Di lain tempat dan kesempatan, dalam sebuah seminar di FEB UGM, Butet Manurung menegaskan, “Menjadi Mapala yang selalu berpetualang memang menyenangkan, tetapi menyenangkan yang terbatas pada diri sendiri, individualis. Menjadi Mapala yang berguna bagi lingkungan sekitar, berbagi kebahagiaan dengan lingkungan sekitar itu lebih baik.”

Kutipan panjang di atas mewakili keresahan banyak pemuda yang bergelut dalam kegiatan kepecintaalaman dan tergabung dalam organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA). Keresahan yang menimbulkan beberapa macam pertanyaan, pertanyaan yang terus dicari jawabannya hingga kini.

Sangat sedikit buku yang bisa dijadikan referensi saat membahas Mapala, buku Sokola Rimba bisa dimasukkan menjadi salah satu buku dari yang sedikit itu, buku yang terbit pertama kali di tahun 2007. Dalam buku itu dapat dipetik bermacam pelajaran berharga, salah satunya, yang berhubungan langsung dengan kepecintaalaman adalah, bagaimana transformasi yang terjadi dalam diri seorang pecinta alam, dari seorang pecinta alam yang subjektif dan individualis, pecinta alam yang terus menerus haus akan petualangan-petualangan dan berbagai macam penaklukan menjadi pecinta alam yang peduli pada lingkungan sekitar, mau mengabdi dan berbagi kepada sesama, berusaha meraih kebahagiaan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi kebahagiaan yang bisa dirasakan orang lain.

Idealnya, kesadaran untuk meninggalkan stigma pecinta alam yang subjektif dan individualis harus ditanamkan sejak dini. Sering kali kesadaran itu akan datang dengan sendirinya seiring dengan perjalanan-perjalanan yang kerap dilakukan yang akhirnya akan menimbulkan keresahan dan berbagai macam pertanyaan, seperti contoh pada kutipan di atas. Kesadaran itu juga bisa dipaksakan dengan sistem kaderisasi yang sejak awal sudah dirancang ke arah sana, dan juga dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang selalu disertai unsur-unsur kepedulian terhadap sesama. Dengan kata lain, memasukkan unsur pengabdian dan kepedulian terhadap sesama sebagai ciri khas organisasi.

Di akhir tahun 2005 dan di sepanjang tahun 2006, keresahan-keresahan akan egoisme, subjektif dan individualis dalam berkegiatan juga dirasakan beberapa orang anggota Satubumi. Diskusi yang panjang terus dilakukan diberbagai kesempatan hingga akhirnya dirumuskan sebuah rancangan sistem kaderisasi yang menekankan pengabdian dan kepedulian terhadap sesama sebagai tujuan utama dari proses kaderisasi, yang pada akhirnya menjadi ciri khas organisasi.

Rangkaian kaderisasi secara garis besar dimulai dari pendidikan dasar, kemudian pendidikan lanjut dan akhirnya melakukan kegiatan swadaya yang dijadikan ujung tombak untuk membangun kesadaran akan pengabdian dan kepedulian terhadap sesama, sebelum akhirnya ditetapkan menjadi anggota penuh Satubumi.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, secara etimologi swadaya berarti kekuatan/tenaga sendiri. Secara terminologi, swadaya bisa diartikan dengan, melakukan sebuah kegiatan dengan mengandalkan akal pikiran, tenaga dan kekuatan serta daya upaya individu atau gabungan dari beberapa individu yang membentuk komunitas, tanpa ada campur tangan dan intervensi dari pihak luar. Dengan menggunakan pertimbangan di atas, kegitan swadaya Satubumi adalah kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan sendiri oleh tim yang akan melakukan kegiatan ekspedisi pengambilan nomor anggota penuh. Mulai dari konsep, eksekusi kegiatan hingga pencarian dana kegiatan dilakukan secara swadaya.

Kegiatan swadaya Satubumi merupakan kegiatan ekspedisi dengan hadiah keanggotaan penuh di organisasi. Untuk menjadikan sebuah kegiatan yang dilaksanakan bisa disebut kegiatan swadaya, ada 3 unsur yang harus terkandung dalam kegiatan yang dijalankan. Ketiga unsur itu adalah kepecintaalaman, pengabdian masyarakat dan unsur kebaruan. Maksud dari unsur kebaruan di sini adalah sebuah kegiatan baru yang belum pernah dilakukan atas nama Satubumi. Hal baru ini bisa dalam unsur kepecintaalamannya atau unsur pengabdian masyarakat, atau bisa saja di dalam keduanya.

Sudah sejak tahun 2007 kegiatan swadaya dilakukan dengan berbagai macam tema dan lokasi pelaksanaan yang berbeda. Mulai dari tema pariwisata, pendidikan hingga teknologi tepat guna dengan tetap menjadikan kegiatan kepecintaalaman sebagai ruh utama kegiatan. Wilayah-wilayah yang pernah dikunjungi kegiatan swadaya adalah Dieng di Jawa Tengah, Gili Trawangan Gili Air dan Gili Meno di Lombok NTB, Desa Karangan di Sulawesi Selatan, Taman Nasional Meru Betiri di Jawa Timur, wilayah hidup Orang Rimba di Taman Nasional Bukit 12 Jambi, wilayah hidup Suku Kajang di Sulawesi Selatan, dan Desa Calabai di Pulau Sumbawa NTB.

Tentu saja kesadaran yang muncul dari pencarian dan perenungan dalam diri akan sangat berbeda dengan kesadaran yang coba dipaksakan dalam sebuah jenjang kaderisasi yang dibangun sejak dini. Namun dengan banyak diskusi serta evaluasi juga refleksi-refleksi kritis dari tiap kegiatan yang dilakukan, kesadaran untuk berkegiatan tanpa melupakan unsur pengabdian dan kepedulian terhadap sesama bisa diraih dengan hasil yang cukup menggembirakan.

Yang ingin dicapai dari semua ini adalah sebuah kesadaran kolektif, kesadaran bersama akan pentingnya pengabdian, kepedulian dan berbagi kebahagiaan kepada sesama. Target minimalis yang ingin dicapai adalah betapa pentingnya asas kebermanfaatan, sekecil apapun sumbangsih yang telah dilakukan, selama itu bermanfaat bagi masyarakat sekitar, tentu saja ini sudah patut untuk di syukuri, syukur alhamdulillah, syukur yang melimpah.

Lebih jauh, di tengah gelombang apatisme dan oportunistik yang sedang menyerang kebanyakan mahasiswa di Indonesia, kegiatan swadaya diharapkan bisa menjadi pemicu terhindarnya rekan-rekan di Satubumi dari sikap apatis dan oportunis, apatis terhadap keadaan dan lingkungan sekitar dan oportunis tanpa mengindahkan kaidah-kaidah sosial dan kearifan lokal yang berlaku di masyarakat. Selain itu, kepedulian sosial yang awalnya dipaksakan dari rangkaian kegiatan kaderisasi yang berujung pada kegiatan swadaya diharap bisa membudaya, memicu kesadaran pribadi tanpa perlu paksaan lagi.

Terlalu muluk kah? Utopis kah semua ini? entahlah, tetapi kegiatan swadaya sudah berjalan sekian lama dan tetap akan terus berjalan hingga entah kapan. Dan sangat mungkin beberapa teman di Satubumi sudah bisa merasakan efek positif dari tujuan awal dicanangkannya kegiatan swadaya ini. Salah satu bukti nyata adalah dilaksanakannya ekspedisi besar lintas angkatan beberapa waktu lalu di Pulau Seram, Maluku, unsur kepedulian sosial dan pengabdian masyarakat sangat kentara dalam kegiatan itu. Di luar itu masih banyak contoh-contoh lainnya yang bisa dibanggakan. Tentu saja tanpa menutupi kegagalan yang ada, kegagalan bahwa kesadaran untuk menjadi Mapala yang bukan hanya jalan-jalan dan berpetualang saja, tetapi juga Mapala yang intens terhadap isu lingkungan, pengabdian masyarakat dan kepedulian sosial yang baik masih belum bisa menyeluruh ditularkan pada anggota Satubumi. Ini wajar terjadi, dan ini berproses. Semoga proses yang terus menerus berjalan ini tetap berjalan menuju ke arah kebaikan.

Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesama. Dan bukankah usaha menjadi manusia yang seperti itu adalah usaha yang mulia dan patut dihargai. Dan lagi, dalam sebuah organisasi dengan unsur individu yang majemuk, usaha menuju kebaikan bersama itu bukan usaha yang mudah, kemudian usaha ini masih terus berjalan dan perlahan-lahan sudah mulai kelihatan hasil yang menggembirakan. Jadi lagi-lagi ucapan syukur harus dilantunkan di sini, syukur alhamdulillah, syukur yang melimpah. Sedang syukur, sebaik-baik wujud sebuah syukur adalah memaksimalkan apa yang kita punya sesuai dengan fungsinya. Jadi mari tetap terus berusaha memaksimalkan organisasi yang kita punya sesuai dengan fungsinya agar bisa menjadikan manusia-manusia yang bergabung di dalamnya menjadi manusia yang lebih baik.

 

Jakarta, Juli 2014, di sela-sela menanti sahur dan berbuka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *