SATU BUMI Merbabu dalam Sudut Pandang Baru – SATU BUMI

SATU BUMI

Mahasiswa Penggiat Alam Bebas Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Merbabu dalam Sudut Pandang Baru

October 26, 2016 by admin

SATU BUMI telah memasuki masa Pendidikan Lanjut, dan inilah saatnya bagi para Anggota Mula yang telah menyelesaikan Pendidikan Dasar untuk melanjutkan tahapan pendidikan mereka ke jenjang yang selanjutnya. Ada yang berbeda dalam Dikjut kali ini, karena SATU BUMI telah membentuk lembaga baru yang mengatur pendidikan, yaitu Badan Pendidikan Khusus. Selanjutnya, segala hal yang berhubungan dengan pendidikan diatur oleh badan yang dikepalai oleh Hilary Reinhart, dengan nama beken Sentot.

Kali ini, penulis berkesempatan untuk menceritakan tentang materi lapangan Divisi Gunung-Hutan SATU BUMI yang melakukan perjalanan selama 4 hari 3 malam ke Merbabu, melalui rute Desa Ngagrong-Tekelan. Rute yang jarang sekali dialui oleh para pecinta alam, dan khususnya anggota SATU BUMI sendiri. Adapun anggota yang akan melakukan perjalanan adalah Obed, Nur (Minol), Agus (Amsyong), Briandro (Gele), dan Nuzuli (Gepeng).

Perjalanan kami dimulai dengan upacara pelepasan di Sekretariat SATU BUMI pada tanggal 05 Juni 2014. Kami berlima masing-masing memanggul satu carrier untuk perlengkapan kami selama 4 hari di perjalanan dan di gunung. Rute yang kami lalui merupakan rute yang cukup berat karena jalur Ngagrong tergolong jalur yang terjal sedangkan Tekelan merupakan jalur terpanjang Merbabu.

Kami diantar ke Simpang Janti untuk selanjutnya melakukan perjalanan dengan mengunakan bus hingga ke Terminal Kartasura. Bus ini mudah ditemukan karena selalu melewati jalan Jogja-Solo secara berkala. Hanya butuh waktu 1 jam 30 menit untuk sampai ke Terminal Kartasura untuk selanjutnya meneruskan ke bus arah Boyolali. Bus ini juga mudah ditemukan, dan rata-rata bus yang ada adalah bus AC dengan waktu tempuh 1 jam sampai ke Pasar Ampel, tempat pemberhentian sebelum ke Desa Ngagrong.

Di pasar ini kami membeli beberapa perlengkapan yang masih belum terbeli, seperti sayur mayur dan buah-buahan. Kami juga sempat bertanya kepada pedagang tentang alat transportasi hingga ke desa Ngagrong, namun ternyata nihil, karena alat transportasi ke desa tersebut telah dihentikan, kalah bersaing dengan ojek yang lebih fleksibel. Setelah beristirahat kami memutuskan untuk mencoba melobby tukang ojek, dan hasilnya tidak memuaskan. Rata-rata tukang ojek tidak mau mengantar hingga basecamp karena jalannya yang cukup terjal dan masih berbatu, itu pun biaya per orangnya tidak murah; 15.000 rupiah.

Akhirnya kami memutuskan untuk mencegat mobil bak terbuka yang akan naik ke desa. Beberapa kali mencoba tidak berhasil, hingga akhirnya Agus berhasil mendapatkan satu mobil yang kosong dan bersedia untuk mengantar kami. Kami tiba di desa Ngagrong pada pukul 12.00 dan disambut baik oleh pemilik basecamp.

Usut punya usut, ternyata buku tamu bapaknya yang masih baru terisi setengahnya adalah buku yang telah digunakan selama 14 tahun! Bahkan pada tahun 2011, hanya ada 1 tim yang melakukan perjalanan melalui desa ini, dan Mapala GAPADRI STTN adalah yang paling rajin. Mereka menggunakan jalur Ngagrong untuk pendidikan dan pelantikan anggota, dan terkadang kegiatan sosial. Kami menyempatkan untuk berbincang sejenak dengan pemilik basecamp sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke camp 1, yaitu pos III. Dibandingkan dengan kebanyakan basecamp pendakian, basecamp ini termasuk yang paling sepi. Sehingga pendaki dapat berdialog lebih dekat dengan pemilik basecamp, dan beramah-tamah. Kali ini, kami diperbolehkan memesan makan siang, meskipun pemilik rumah tidak mematok biayanya. Intinya adalah, menggunakan sopan santun yang sesuai saat bertamu aja sih.

Meski dengan tidak enak hati, akhirnya kami tetap memutuskan untuk naik siang itu juga untuk bermalam di pos III. Jalur Ngagrong dimulai dengan menapaki ladang warga selama 20 menit pertama sebelum akhirnya masuk ke daerah hutan. Jalurnya tergolong terjal dan tidak bersahabat untuk kaki. Namun pemandangan yang tersaji sangatlah menarik karena hutan jalur ini masih tergolong hutan yang baik yang terjaga dengan baik. Beberapa pohon besar dan rapat masih dapat kami temui sepanjang jalan, sebelum akhirnya jalur berbelok ke kiri menyusuri puncakan punggungan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *