SATU BUMI Menelisik Kebudayaan Jalur Besakih, Gunung Agung, Bali – SATU BUMI

SATU BUMI

Mahasiswa Penggiat Alam Bebas Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Menelisik Kebudayaan Jalur Besakih, Gunung Agung, Bali

May 26, 2018 by admin

Gunung Agung merupakan gunung yang disakralkan masyarakat Bali. Berdasarkan disertasi David J. Stuart-Fox (1987), mulanya Bali berada dalam keadaan tidak stabil. Kemudian, Bhatara Pasupati mengutus Naga Basuki, Naga Anantaboga, dan Naga Taksaka untuk membawa bagian dari Mahameru (Gunung Semeru) ke Bali. Naga Basuki dan Naga Anantaboga mengikat potongan gunung, lalu Naga Taksaka menerbangkannya dan salah satu bagiannya diletakkan di Bali. Setelah itu, Bathara Pasupati mengutus ketiga putra-Nya untuk bersemayam di Bali, diantaranya adalah Bhatara Hyang Putranjaya (bersemaya, di Gunung Agung), Bhatari Dewi Danu (bersemayam di Gunung Batur), dan Bhatara Hyang Gnijaya (bersemayam di Gunung Lempuyang).

Dari Babad Bali, dikutip dari Lontar Markandeya Purana tentang asal mula desa dan pura Besakih, pada sekitar abad ke-8 M, Resi Markandeya (seorang yogi/pertapa dari India) beserta 8000 orang pengiringnya datang ke lereng Gunung Tohlangkir (saat ini Gunung Tohlangkir disebut sebagai Gunung Agung). Mereka datang untuk bercocok tanam, namun ketika merambah hutan untuk membuka lahan sebagai areal pertanian, banyak pengikutnya yang meninggal karena sakit dan dimangsa binatang buas.

Akhirnya, Resi Markandeya kembali bermeditasi di Gunung Raung dan memohon petunjuk kepada Sang Hyang Widhi. Beliau pun mendapat pawisik (wahyu/wangsit, bisikan petunjuk) dan kembali ke lereng Gunung Tohlangkir bersama 4000 orang pengiringnya yang berasal dari Desa Age (penduduk di kaki Gunung Raung) untuk kembali mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara selesai, perambahan dilanjutkan hingga dianggap cukup dan diadakan pembagian tanah untuk para pengikutnya; masing-masing dijadikan sawah, tegal, dan perumahan. Di tempat dimana perabasan hutan dimulai, Sang Yogi Markandeya menanam kendi (payuk) berisi air; pancadatu yaitu logam emas, perak, tembaga, besi, dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten/sesaji) selengkapnya diperciki tirta Pangentas (air suci).

Kawasan Tohlangkir dikembangkan dan kemudian wilayah ini dinamai basuki, lalu menjadi Besakih yang artinya selamat. Tempat ini dikembangkan menjadi areal pura (tempat suci) hingga akhirnya menjadi pura utama. Mulanya dari sebuah pelinggih, kemudian didirikan pura bernama Besukian, lalu dibangun secara bertahap, sehingga menjadi kompleks pura terbesar yang sekarang dikenal dengan nama Pura Besakih.

Pura Besakih merupakan kompleks pura terbesar sekaligus pura yang berada di lokasi tertinggi di Pulau Bali, tepatnya terletak di kaki Gunung Agung, gunung tertinggi di Pulau Bali. Saat ini, selain menjadi pusat kegiatan keagamaan Hindu di Bali, Pura Besakih maupun Gunung Agung ramai oleh wisatawan. Banyak wisatawan lokal maupun asing yang datang ke Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, untuk mengamati kebudayaan masyarakat Bali di Pura Besakih, maupun menikmati pesona keindahan alam dengan mendaki Gunung Agung. Namun, tidak semua orang tahu bahwa ada banyak cerita tentang kebudayaan Bali di balik eksotika pemandangan di sepanjang jalur pendakian Gunung Agung via Besakih.

Sebenarnya, ada dua jalur umum pendakian Gunung Agung, yaitu Jalur Besakih dan Pasar Agung (Selat). Dari Jalur Besakih sendiri, terdapat dua tempat start, yaitu Pura Pengubengan dan Embung. Ketika melakukan pendakian melalui Jalur Besakih, pendaki tidak akan hanya melihat suasana alam gunung berapi; ada beberapa spot kebudayaan yang memiliki nilai sejarah dan keunikan tersendiri, yang belum tentu didapatkan ketika mendaki gunung yang lain. Untuk mendaki Gunung Agung, pendaki harus ditemani oleh guide lokal. Hal ini ditujukan demi jaminan keamanan dan keselamatan pendaki, mengingat risiko musibah yang bisa saja dialami pendaki saat mendaki gunung. Selain itu, guide dapat mengarahkan pendaki untuk melakukan pendakian sesuai etika, dimana selama melewati setiap pelinggih, guide akan meletakkan canang dan melakukan sembahyang; memohon doa agar diberi keselamatan dalam melakukan pendakian.

Objek-objek kebudayaan religius Hindu yang akan ditemui pendaki saat melakukan pendakian Gunung Agung, diantaranya:

  1. Pura Pengubengan (1100 mdpl)
    Apabila pendaki memulai pendakian dari Embung, maka pendaki tidak akan melewati Pura Pengubengan. Pura Pengubengan dapat diakses dengan jalan kaki dari Pura Penataran Agung, atapun langsung ke Pura Pengubengan karena disana pun terdapat tempat parkir. Pura Pengubengan berasal dari kata ngubeng yang berarti nyatu atau ngumpul, sehingga maksudnya adalah tempat berkumpulnya kaum atau warga sekitar. Menurut pemangku (pemikul tanggung jawab sebagai pelayan Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus sebagai pelayan masyarakat) yang sudah ngayah (melakukan kewajiban sosial masyarakat dengan hati yang tulus ikhlas tanpa mendapat upah; dalam hal ini ngayah pura utamanya berarti melakukan kewajiban religius-teritorial/ritual keagamaan) di Pura Pengubengan sejak pura tersebut masih baru terdiri dari 1 pelinggih, 1 meru, dan 2 bale tegah, penguasa yang bersemayam di Pura Pengubengan adalah Naga Taksaka. Pura ini terdiri dari tiga bagian utama: purian (tempat persembahyangan utama, terletak di bagian dalam), jaba tengah (tengah), dan jaba pisan (luar). Pada gerbang yang membatasi purian dan jaba tengah, terdapat gambar Naga Taksaka. Selain itu, di sekitar meru (bangunan dengan atap bertingkat—dalam Pura Pengubengan, meru memiliki 11 tingkat) pun terdapat ukiran batu berbentuk naga.
    Sama dengan pura pada umumnya, struktur utama bangunan Pura Pengubengan terbuat dari batu, kayu, dan atapnya dari ijuk. Pada beberapa bagian, tampak busana pura berupa kain putih dan kuning, perada (terletak di atas atap pura, serta busana dengan bentuk payung. Pura ini baru dipugar, direnovasi, dan dibangun menjadi lebih besar dan lengkap pada tahun 2008.
    Tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam purian pura. Di dalam purian pura, guide akan meletakkan canang (sesajen yang diwadahi dengan daun kelapa, berisi bunga, buah, dan beras dengan susunan tertentu), kemudian menaruh dupa dan mengibas-ibaskan aromanya sambil mengucapkan doa agar diberi keselamatan dalam mendaki sekaligus pamit kepada para penjaga yang ada di lingkungan tersebut.
  2. Pelinggih 1 (1513 mdpl)
    Tempat ini merupakan pelinggih pertama yang akan ditemui pendaki ketika mulai melakukan pendakian lewat Embung, atau dari rumah ketua koordinator pendakian sekaligus pemangku, I Komang Kayun. Pelinggih, berasal dari kata linggih yang artinya duduk, berarti ‘tempat duduk’, atau dalam konteks ini berarti tempat bersemayamnya dewa atau penguasa alam. Agar sebuah tempat menjadi pelinggih, sebelumnya harus diupacarai/disucikan terlebih dahulu dengan mantra, sesajen, dan mengundang para dewa. Tanpa disucikan sebelumnya, sebuah lokasi tidak dapat dianggap sebagai pelinggih. Karena pelinggih ditentukan oleh sudah atau belumnya disucikan sebelumnya, bentuk setiap pelinggih dapat berbeda-beda.
    Ketika mencapai setiap pelinggih, guide akan meletakkan canang dan mengucapkan doa. Karena merupakan tempat sembahyang, orang-orang tidak boleh sembarangan meletakkan pakaian, menginjakkan kaki, ataupun meludah di pelinggih. Apabila dilanggar, sesuatu yang tidak baik dapat terjadi, misalnya dibingungkan dalam berjalan. Di pelinggih 1, guide akan meletakkan canang di atas tanah, karena tidak ada bangunan khusus untuk meletakkan canang. Tanah di tempat ini pun relatif datar sehingga nyaman untuk beristirahat, sehingga terkadang orang menyebutnya sebagai pos peristirahatan.
  1. Pelinggih 2 (1797 mdpl)
    Pelinggih 2 terletak di persimpangan Jalur Pura Pengubengan dan Embung. Pelinggih ini baru dibuat ketika membuka jalur baru. Di tempat ini, guide kembali meletakkan canang, tetapi kali ini di atas kayu pohon lemputu. Di sekitar tempat ini memang terdapat banyak tumbuhan lemputu. Selain lemputu, pada ketinggian itu terdapat vegetasi tumbuhan albisia dan gunggung (beri merah).
  2. Tirta Giri Kusuma (2110 mdpl)
    Tirta Giri Kusuma, terdiri dari kata tirta yang berarti air, giri berarti gunung, dan kusuma yang berarti menyempurnakan, adalah mata air suci tertinggi di Bali karena paling dekat dengan puncak. Meskipun ada delapan mata air suci lainnya di Besakih, orang-orang kerap mengambil air suci di Tirta Giri Kusuma untuk keperluan persembahyangan dan upacara keagamaan. Dalam mengambil air suci, biasanya diperlukan rombongan yang terdiri dari 10-15 orang dan harus ada pemangku dalam rombongan tersebut. Rombongan akan memakai baju putih, kain sarung putih, dan udeng (ikat kepala putih khas Bali) serta membawa pejatian, sesajen khusus yang berbeda dengan canang (wadah dari daun kelapanya berbentuk silinder dan lebih besar, kemudian diisi pula dengan batok kelapa dan isian lainnya). Air diambil dengan menggunakan batil/sangku, kemudian disimpan di dalam bambu berbusana kain kasa (kain putih-kuning).
    Mata air suci ini terletak di samping bangunan pelinggih-nya, atau disebut Pura Giri Kusuma. Sebelumnya, tempat ini hanya berupa pelinggih biasa. Pura Giri Kusuma berbentuk segi empat, atau padma, bisa diartikan surya yang berarti matahari. Gedong kalau berbentuk menjulang dan beratap seperti rumah. Bahannya berasal dari batu tabas. Pada pura tersebut terdapat busana. Di atasnya terdapat dua payung berwarna putih dan kuning. Di sekelilingnya dipasang kain kasa putih kuning dan pis bolong (koin berlubang).
  3. Camp 1 (2388 mdpl)
    Di tempat ini, pendaki yang tidak ingin melakukan pendakian tektok alias tanpa menginap, dapat mendirikan tenda. Pada Camp 1, terdapat tanah datar yang cukup untuk sekitar tiga buah tenda.
  4. Camp 2 (2571 mdpl)
    Selain Camp 1, terdapat Camp 2 yang bisa menjadi alternatif lokasi pendirian tenda bagi para pendaki yang ingin bermalam ketika melakukan pendakian. Tempat ini cukup untuk mendirikan sekitar dua buah tenda.
  5. Kori Agung (2618 mdpl)
    Kori Agung, terdiri dari kata kori yang berarti pintu/gerbang, merupakan pelinggih yang terletak tepat di bawah tebing sebelum menuju puncak Gunung Agung. Kori Agung pun terletak di batas vegetasi, dimana setelah melewati Kori Agung, pendaki akan melewati jalanan dengan batu-batu besar dan tanaman yang ada hanya edelweiss dan beberapa tanaman lainnya. Di Kori Agung, pelinggih berupa bangunan dengan struktur utama dari kayu, kemudian dihiasi busana berupa kain putih dan kuning, ider-ider (kain putih dengan corak khas di bagian atas dekat atap), dan payung berwarna putih. Sebelumnya, terdapat kayu-kayu yang memagari pelinggih tersebut, tetapi saat ini pagar kayu tersebut sudah tidak terpasang. Pelinggih di Kori Agung dibangun oleh Tiru Mangku Badre sekitar 3 tahun yang lalu (2014).
    Di Kori Agung, guide akan meletakkan canang seperti sebelumnya.
  6. Camp 3 (2842 mdpl)
    Camp 3 terletak di atas Kori Agung dan sudah mendekati puncak, sehingga medan di sekelilingnya merupakan tanjakan terjal dengan batu-batu yang relatif besar. Tempat ini hanya cukup untuk mendirikan 1 tenda dan posisinya berada di dalam cerukan sehingga angin tidak menghantam tenda secara langsung.
  7. Puncak 1 (2946 mdpl)
    Puncak 1 merupakan puncak yang paling dekat dengan Camp 3. Dari Puncak 1, Gunung Raung mulai terlihat. Selain itu, Bukit Kintamani, Abang, Gunung Batur, Danau Batur, dan pantai lebih jelas terlihat.
  8. Puncak 2 (3035 mdpl)
    Di Puncak 2, pendaki masih dapat melihat pemandangan Gunung Raung, Bukit Kintamani, Abang, Gunung Batur, Danau Batur, dan pantai; serta dapat melihat Gunung Rinjani di arah timur.
  9. Puncak 3 (3043 mdpl)
    Dari Puncak 2 ke Puncak 3, jalanan cenderung naik-turun dan terkadang landai. Oleh sebab bentuk seperti itulah, jalur ini disebut sebagai jalur Naga atau Bangkiang Jaran (punggung kuda). Di antara Puncak 2 dan Puncak 3, terdapat pertemuan jalur dari Pasar Agung. Dari Puncak 3, pendaki dapat melihat kawah dari dekat serta Puncak Pasar Agung. Di tempat yang juga merupakan pelinggih ini, guide menaruh canang dan mengucap doa agar tetap selamat dalam perjalanan turun, serta terima kasih karena pendakian berhasil dilakukan sampai puncak. Apabila pendaki tidak sampai ke Puncak 3, guide bisa meletakkan canang di puncak-puncak sebelumnya (menyesuaikan pendaki).

Infografis Besakih resized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *