SATU BUMI Laporan Operasional Posko SATU BUMI Termin III (13 Oktober – 19 Oktober 2018) – SATU BUMI

POSKO SATU BUMI

Tanggap Bencana Untuk SULTENG

Laporan Operasional Posko SATU BUMI Termin III (13 Oktober – 19 Oktober 2018)

October 23, 2018 by admin

Laporan Operasional Termin 3

  1. Pendahuluan

Arahan pertama dan utama untuk termin 3 adalah untuk menemukan dan memastikan posko yang akan dijadikan sebagai posko dampingan. Setelah pada termin 2 posko mengambil lokasi di Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, maka pada termin 3, posko mengarahkan fokusnya menuju daerah yang terdampak langsung gempa yakni di Kota Palu dan sekitarnya.

pada periode awal termin 3, tim lapangan merapat menuju posko Karawana dan menetapkan posko tersebut sebagai posko dampingan tempat dimana program-program dan kegiatan dampingan dilaksanakan. Berikut merupakan profil awal (baseline) posko Karawana yang djadikan sebagai posko dampingan per tanggal 15 Oktober 2018

  1. Lokasi :
  • Alamat : Desa Karawana Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi
  • Akses : Akses menuju lokasi dapat ditempuh menggunakan motor dan kendaraan roda 4. Akses jalan beraspal, kondisi di sekitar desa jalan bergelombang akibat pergerakan tanah.
  • Koordinat      : 01.0071280 S, 119.9106770E
  • Kontak            : Abdul Rahman (085342317184)
  1. Bangunan

Sekitar 80 persen bangunan rusak, terdiri dari :

  • Rumah : 289 rusak berat, 50 rusak sedang dan 40 rusak ringan.
  • Fasilitas Umum :
    1. Kantor Desa Rusak Berat,
    2. 1 SD rusak berat,
    3. 1 Pustu rusak berat,
    4. 1 TK Rusak ringan,
    5. Saluran irigasi rusak parah,
    6. Jalan mengalami (kerusakan) di beberapa titik,
  1. Penyintas :
  • Jumlah KK = 439 KK
  • Jumlah jiwa = 1.950 Jiwa
  • Jumlah Lansia = 148 jiwa
  • Bayi = 50 jiwa
  • Jumlah Balita = 110 jiwa

 

Kondisi Karawana sendiri pada pertama kali tim masuk ke daerah tersebut pada tanggal 15 Oktober 2018 adalah sebagai berikut.

  1. Umum
  • Penyintas mendirikan tenda di sekitaran Mereka menempati tenda yang didirkan di halaman rumah atau tanah lapangan,
  • Tenda dibuat dari terpal, daun sagu, kayu, bambu dan sisa bangunan lama,
  • Dimensi tenda sangat beragam,
  • Jumlah jiwa per tenda sangat beragam,
  • Banyak posko – posko kecil yang didirikan masyarakat,
  • Tempat penyimpanan logistik dan obat-obatan menggunakan terpal,
  • Belum ada pengelolaan posko yang memadai,
  1. Sanitasi
  • Kondisi sumur warga saat ini 70% mengalami keruakan akibat gempa. Hal ini membuat sebagian masyarakat kesusahan akses air,
  • Tandon air sudah ada di beberapa titik, setiap hari diisikan oleh PMI,
  • Belum ada pengelolaan sampah, masyarakat membuang sampah sembarangan.
  • Ketersediaan MCK tidak merata, sebagain besar MCK milik masyarat rusak dan tidak ada suplai air.
  • Sebagian masyarakat BAB sembarangan di saluran irigasi yang mati atau semak – semak.
  1. Kesehatan
  • Menu sehat yang dikonsumsi penyintas masih kurang. Masyarakat masih dominan mengkonsumsi bantuan makanan instan,
  • Kesehatan warga belum terpantau karena terbatasnya akses ke fasilitas kesehatan,
  • Banyak balita diare, demam, batuk, dan pilek,
  • Belum tersedian stok obat-obatan dan vitamin yang mencukupi untuk kelompok rentan,

Posko juga mendapatkan tambahan dua personil yakni Fawaz dan Jarody Hestu. Fawaz berangkat pada hari MInggu tanggal 14 Oktober 2018 dan Jarody pada hari Selasa tanggal 16 Oktober 2018. Keduanya akan memberi support dalam berbagai hal termasuk untuk assessment dan program-program bantuan ataupun intervensi ke Karawana.

Karena tim lapangan telah mendapatkan cukup personil dan untuk memudahkan kinerja serta komunikasi, maka diputuskan untuk merombak struktur yang sebelumnya telah dibuat dan menambahkan struktur di lapangan. Struktur tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 1. Struktur Posko SATU BUMI untuk Sulawesi Tengah pada Termin 3

Gambar 2. Suasana Posko Karawana

  1. Program Posko pada Termin III

Secara umum, sesuai dengan laporan situasi yang dikirimkan pada tanggal 15 Oktober 2018, permasalahan yang dihadapi oleh posko tersebut adalah permasalahan kebutuhan dasar yang masih belum terpenuhi terutama pada aspek mendasar seperti sanitasi, kesehatan, dan pendidikan. Untuk itu, dalam menangani permasalahan tersebut, posko menyepakati untuk melakukan dan menyusun program yang tertuang dalam tiga koridor utama yakni:

  1. Pemenuhan kebutuhan dasar
  2. Pendampingan anak-anak
  3. Penanganan infrastruktur.

Pemilihan program tersebut, selain didasarkan pada permasalahan yang dihadapi juga disesuaikan dengan kapasitas dan sumberdaya yang dimiliki oleh posko sendiri. Hal tersebut perlu dipertimbangkan untuk menjamin keberlangsungan program dan memastikan proram yang disusun menjawab kebutuhan dan permasalahan yang secara mendasar dihadapi oleh para penyintas di Karawana.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, maka posko membuat media publikasi baru dan difokuskan untuk posko Karawana tersebut. Media poster yang digunakan untuk menarik bantuan dan donasi dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar 3. Media Pengumuman Penerimaan Bantuan

Program-program tersebut dikerjakan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pemenuhan kebutuhan dasar dan pendampingan anak-anak sedangkan program infrastruktur dikerjakan pada tahap kedua. Pembagian dua tahap tersebut dilakukan untuk memudahkan perencanaan dan ekseskusi program. Pertimbangan mendasarnya adalah kebutuhan data, proses analisis, dan skala dari program tersebut. Program pemenuhan kebutuhan dasar dan pendampingan anak-anak dapat langsung dieksekusi dan harus dilakukan sedini mungkin dengan data yang dilakukan dengan metode rapid assessment. Hal yang berbeda ditemui dengan program infrastruktur yang bersifat jangka menengah dengan data yang diperoleh dari deep assessment. Menyadari perbedaan waktu eksekusinya, maka diputuskan bahwa upaya pengumpulan donasi dibedakan.

Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Untuk pemenuhan kebutuhan dasar, hal yang dilakukan untuk posko lapangan Karawana adalah penyediaan sembako dan logistik untuk dapur umum yang terdapat di Karawana. Terdapat 3 dapur umum di Karawana yang didukung oleh tim lapangan. Bantuan logistik dari Makassar yang dibawa oleh Rani pada termin 2 juga diarahkan dan diberikan langsung ke Karawana. Seluruh sumberdaya yang dimiliki posko diarahkan kesana. Bantuan untuk posko Karawana tercatat tiba pada hari Selasa tanggal 16 Oktober 2018. Untuk jenis bantuan yang dibawa dari Makassar dapat dilihat pada laporan termin 2. Selain pemberian bantuan ke Karawana, Rani yang juga membawa logistik bantuan dari Fakultas Teknik juga melakukan pemberian bantuan ke beberapa posko di lapangan dan posko induk yang berada di Universitas Tadulako.

 

Selain bantuan logistik yang dibawa dari Makassar, tim juga membelanjakan dan melakukan pengadaan berbagai kebutuhan dasar selama di Karawana. Daftar keluar masuk logistik dapat dilihat pada tabel berikut.

Tanggal Pengadaan Barang Jumlah Unit
10/12/2018 Selimut Balita 60 lembar
Bikuit Bubur milna 48 kotak
Paket ATK 100 unit
Terpal 4×6 m 6 lembar
Terpal 4×6 m 5 lembar
terpal 4×7 m 5 lembar
10/13/2018 Terpal 4×6 m 36 lembar
10/16/2018 Bola voli
Bola kaki (kulit)
Spirtus
Air + Galon
Kabel 15 meter
Stopkontak 4 lb 1 buah
Steker 1 buah
Stopkontak Broco 1 buah
Testpen 1 buah
Obeng Plus 1 buah
Kabel 10 meter
Fitting 2 buah
Panasonic LED 13 W 2 buah
terimal T + Saklar 1 buah
Isolasi 1 roll
Bahan Makanan
10/17/2018 Bola Kaki (plastik) 2 bola
Trash Bag 80 x 100 cm 20 lembar
Tas 50 buah
Dll (didalam kardus tas)
Ekstra Joss Blend 2 kardus
10/18/2018 Gula Putih 9 Kg
Bubur Kacang Hijau 15 kg
10/19/2018 Gula Merah 9 kg
Map Plastik 3 buah
Spidol 1 buah
Kertas A4 1 rim
Binder 5 buku
kertas gambar (fotocopy) 180 lembar

 

Gambar 4. Pemberian Makanan Sehat Berupa Kacang Ijo

Pendampingan Anak-Anak

Anak-anak merupakan salah satu kelompok rentan yang terdampak oleh kejadian gempa di Karawana. Selain rentan terdampak kesehatan badaniah karena terganggunya kebutuhan dasar mereka, anak-anak juga rentan terdampak secara mental. Kejadian gempa dapat meninggalkan pengalaman yang tidak menyenangkan yang apabila tidak kemudian ditangani dan diintervensi dapat berkembang menjadi suatu trauma tersendiri. Selain itu, lingkungan sosial dan rutinitas anak-anak juga mengalami perubahan yang mendadak dan sin=gnifikan karena terganggunya fungsi sosial masyarakat secara umum. Salah satu rutinitas yang terdampak adalah kegiatan belajar mengajar dan pendidikan di sekolah formal. Menyadari kondisi demikian, maka posko memilih untuk memberikan progra kepada anak-anak.

Program pendampingan kepada anak-anak dilakukan agar anak-anak dapat tetap mendapatkan sarana dan wahan untuk bermain dan belajar. Oleh sebab itu, program yag dirancang bagi anak-ana adaah kegiatan ringan seperti bermain bersama, lomba, serta kegiatan seperti menggambar dan mewarnai. Diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut, anak-anak memiliki kesibukan untuk mengisi waktu luang dan dapat mengalihkan perhatiannya dari kejadian gempa yang terjadi dan secara positif diajak untuk merekonstruksi pengalaman yang mereka alami menjadi pelajaran tersendiri dan diarahkan sebagai hal yang sifatnya konstruktif dalam pikiran mereka. Kegiatan anak-anak dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari.

 

Gambar 5. Berbagai Kegiatan Pendampingan Anak-anak (searah jarum jam: kegiatan lomba dan kegiatan mewarnai serta menggambar)

Penanganan Infrastruktur

Untuk kegiatan bertema infrastruktur sendiri, kegiatan yang pertama dilakukan adalah assessment kondisi bangunan untuk menentukan kebutuhan bangunan yang diperlukan di posko Karawana. Assessment yang dilakukan dilakukan dengan mengambil data sekunder dari Pemerintah Desa Karawana. Rekapitulasi data tersebut dapat dilihat pada Tabel berikut.

NO NAMA FASILITAS TINGKAT KERUSAKAN
RUSAK RINGAN RUSAK SEDANG RUSAK BERAT
1 Fasilitas Umum 4 3 7
2 Rumah Warga 38 41 283

 

Gambar 6. Grafik Rekapitulasi Kerusakan Bangunan di Karawana

Berdasarkan data tersebut, mayoritas atau 78% rumah masyarakat Karawana rusak berat. Sementara 11% rusak ringan dan rusak sedang. Sedangkan untuk fasilitas umum, separuh dari seluruh fasilitas umum yang terdapat di Desa Karawana rusak berat. 29% diantaranya rusak ringan dan 21% diantaranya rusak sedang.

Berdasarkan data tersebut, maka diputuskan untuk mengupayakan bantuan berupa penanganan bangunan rusak. Dengan menumbang urgensi dan sumberdaya yag tersedia, maka diputuskan penanganan infrastruktur yang didampingi oleh posko adalah sekolah darurat pada Sekolah Dasar Negeri 05 Dolo. Penanganan infrastruktur sendiri merupakan upaya ayang membutuhkan manajemen dan biaya yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, untuk mendukung terealisasinya rencana tersebut, maka hal yang dilakukan adalah dengan membuat proposal untuk menarik bantuan pada sekolah tersebut.

 

  1. Manajemen Posko

Selain mengadakan bantuan secara fisik, tim lapangan juga memberikan lokakarya dan pendampingan manajemen posko pada pemangku kepentingan setempat. Lembaga yang disasar oleh tim lapangan antara lain adalah karang taruna dan pemerintah desa. Diharapkan dengan adanya pendampingan tersebut, maka muncul agen-agen setempat yang dapat melanjutkan fungsi manajemen posko bilamana tim lapangan kembali atau meinggalkan Karawana.

Selain itu, adanya peran serta lembaga setempat sangat diharapkan untuk mendukung terealisasinya program sekolah darurat. Karena keteratasan waktu dan jarak, pendampingan dalam pembuatan sekolah darurat tersebut tidak dapat dilakukan secara intensif. Oleh sebab itu, salah satu upayanya adalah dengan menciptakan kelambagaan bekerjasama dengan pihak sekolah untuk sekolah darurat tersebut.

Gambar 7. Suasana Koordinasi

Gambar 8. Koordinasi dengan Karang Taruna