SATU BUMI Learning How to Humanize Humans – SATU BUMI

SATU BUMI

Mahasiswa Penggiat Alam Bebas Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Learning How to Humanize Humans

July 11, 2019 by admin

Sering ada pertanyaan, “sudah naik gunung apa aja, mas?”, atau “naik gunung sudah berapa kali, bang?” Jawaban yang selalu sulit untuk saya berikan. Untuk menjawab pertanyaan pertama, saya harus menyebutkannya satu-persatu. Sedangkan untuk menjawab pertanyaan kedua, saya harus melihat catatan saya. Saya tidak cukup mampu mengingatnya. Jawaban yang saya berikan pun akan membuat saya terkesan sombong, termasuk dengan tulisan ini. Sombong. Tentu tidak ada sama sekali bermaksud sombong. Apa yang harus disombongkan? Bahkan seorang pendaki paling berpengalaman di dunia bisa mati kapan saja saat dia mendaki.

Oke, setelah saya melihat catatan, ternyata saya sudah lebih dari 70 kali. Sekitar 15 gunung yang sudah saya sambangi sampai hari ini. Tentu belum ada apa-apanya. Karena masih banyak orang lain yang lebih dari itu. Sungguh banyak waktu, tenaga dan lainnya yang telah saya limpahkan untuk kegiatan yang satu ini. Mendaki Gunung.

Kegiatan pendakian gunung saya mulai pertama kali saat umur saya masih belasan tahun, tepatnya saat saya memulai kuliah semester pertama pendidikan sarjana. Saya berkuliah di fakultas teknik salah satu universitas negeri di Provinsi Yogyakarta. Hingga saat ini, kegiatan ini masih rutin saya lakukan. Berarti sudah lebih dari 13 tahun saya aktif mendaki. Walaupun secara intensitas, tidak sekerap dahulu saat masih kuliah. Mungkin dahulu saya bisa mendaki lebih dari 10 kali dalam setahun. Sekarang 5 kali saja sudah bagus. Tentu waktu yang menjadi kendala utama.

Dari sekian waktu yang telah saya lalui itu, saya membagi ke dalam 3 fase tujuan pendakian gunung. Pertama tentang petualangan, kedua tentang pencarian, ketiga tentang pengabdian. Keempat dan selanjutnya saya belum tahu karena belum mengalaminya.

Pada awalnya, buat saya pendakian adalah sebagai kegiatan petualangan. Pada fase ini saya mengalami haus sekali akan kegiatan pendakian. Berkegiatan di alam bebas, dalam hal ini gunung, pencapaian fisik adalah sebuah kepuasan. Bertualang menjadi alasan utama pendakian saya saat itu.

Setelah saya mulai merasa jengah dengan aktivitas petualangan, saya tetap mendaki gunung. Tentu dengan alasan berbeda. Seperti ada yang saya cari di dalam setiap pendakian berikutnya. Pada saat itu saya berulang-ulang mendaki gunung yang itu-itu saja. Dengan tujuan yang saat itu saya tidak mengerti. Inilah fase saya mencari makna sebenarnya dari sebuah pendakian gunung menurut versi saya.

Hingga suatu ketika saya mengalami kejadian yang membuat saya mengerti bahwa inilah yang seharusnya saya ambil. Bahwa setiap pendakian haruslah membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain di sekitar kita, dalam bentuk sekecil apapun. Sebuah rasa, ketika membantu orang lain bahkan yang sama sekali tidak mengenalnya adalah tanpa tendensi apapun. Membagi pengalaman bukan tentang menyombongkan diri sendiri. Bahkan ketika sudah tidak lagi berada di gunung. Karena di sanalah tempat belajar. Dan di kehidupan sehari-hari adalah penerapan yang sesungguhnya. Dan lain-lain yang belum bisa dijelaskan dengan bahasa. Dan saya akan terus belajar dan belajar lagi dalam menjalankanya.

Kegiatan mendaki gunung bukan tentang berapa kali. Kegiatan mendaki gunung bukan tentang sudah ke mana saja. Menurut saya, mendaki gunung adalah pembentuk karakter dasar paling ampuh ketika usia seseorang sudah cukup sulit lagi untuk dibentuk (>15tahun). Lalu, karakter dasar seperti apa yang dicari dalam kegiatan pendakian gunung? Hanya anda yang dapat menjawabnya sendiri. Untuk saat ini jawaban saya adalah LEARNING HOW TO HUMANIZE HUMANS.

Thanks.

Balaraja, Kab. Tangerang
April 13, 2019

(ditulis oleh M. Iqbal Tawakal, BUMI 06.104)