SATU BUMI PERJALANAN SUMBER ENERGI DI PETUNGKRIYONO: DARI PLTMH HINGGA MENJADI PLN – SATU BUMI

SATU BUMI

Mahasiswa Penggiat Alam Bebas Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

PERJALANAN SUMBER ENERGI DI PETUNGKRIYONO: DARI PLTMH HINGGA MENJADI PLN

February 29, 2020 by admin

PLTMH merupakan singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro. PLTMH digerakkan oleh air sebagai sumber energinya. Energi yang dihasilkan PLTMH dapat digunakan untuk aktivitas harian masyarakat, terutama untuk kebutuhan rumah tangga maupun perladangan. Terdapat 2 jenis PLTMH, yaitu generator dan kincir. Pada kali ini, kami selaku peserta SWADAYA XIII SATU BUMI Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada melakukan penelitian tentang mikro hidro. Kegiatan yang kami lakukan adalah riset data kualitatif mengenai mikro hidro di Desa Simego, Curugmuncar, dan Songgodadi yang berada di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.

Pada mulanya, dari tahun 90-an, masyarakat telah menggunakan kincir untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Akan tetapi, kincir tersebut menghasilkan listrik yang tidak stabil sebab arus yang dihasilkan kincir bergantung pada kuat arus sungai yang mengalir. Hal ini menyebabkan alat elektronik cepat rusak. Pada tahun 2006, musyawarah desa menyepakati untuk memasang PLN di desa tersebut. Untuk pemasangan PLN sendiri teknisi dari PLN harus datang ke lapangan untuk mengecek apakah lokasi tersebut dapat dijangkau PLN atau tidak. Rupanya, kondisi di lokasi membuat PLN menyarankan masyarakat setempat agar memanfaatkan curug disana sebagai sumber listrik.

Pada tahun 2006, desa tersebut mendapatkan bantuan dari Kementrian ESDM kurang lebih sebesar 1 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membangun rumah propeller dan instalasi listrik. Saat pembangunan PLTMH selesai, masyarakat menyambut dengan bahagia karena mereka tidak perlu menggunakan kincir yang selama ini mereka pakai. Kemudian, warga berbondong-bondong menjual kincir mereka. Ada yang menjual menjadi rongsokan besi tua dan ada juga yang menjual utuh untuk dipakai di desa lain. Musyawarah pun dilakukan kembali untuk menentukan struktur pengelola PLTMH dan juga tarif yang mereka sepakati bersama. Kini, PLTMH di Desa Curugmuncar dan Songgodadi berjumlah dimanfaatkan oleh 102 rumah dengan 154 kepala keluarga.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai tertarik dengan PLN yang lebih mudah daripada PLTMH. Masyarakat merasa bahwa PLTMH banyak kekurangannya. Salah satunya dapat dirasakan ketika terjadinya longsor di saluran air yang menyuplai PLTMH. Jika terjadi longsor, saluran air yang menyuplai PLTMH akan rusak. Sehari setelah longsor, masyarakat akan bergotong royong untuk memperbaiki saluran tersebut. Saluran yang dibangun memang terletak di daerah rawan longor dan pergeseran tanah.

Masalah lain turut ditemui pada musim kemarau dan penghujan. Saat musim kemarau, debit air penyuplai PLTMH menyusut secara drastis. Sementara itu, saat musim hujan, AVR (Automatic Voltage Regulator) mengalami kerusakan akibat tersambar petir. Selama berdiri, PLTMH sudah tersambar petir hingga dua kali. Perbaikan alat PLTMH membutuhkan waktu lebih dari sebulan karena harus memesan alat yang dibuat di luar negeri terlebih dahulu. Saat membeli alat buatan dalam negeri, dalam waktu 2 minggu alat tersebut langsung rusak. Selain itu, permasalahan PLTMH yang lain adalah terjadi kerusakan pada pipa yang berada di dalam sungai. Kerusakan pada pipa terjadi karena terbentur material-material yang terbawa arus sungai yang deras pada saat musim hujan.

Perawatan PLTMH relatif lebih intens dan sulit dibandingkan PLN. Jika terjadi hujan apalagi disertai petir lalu menyebabkan listrik mati, PLTMH harus segera diperbaiki sementara akses jalan untuk menuju ke lokasinya pun tidak mudah. Banyak rintangan yang harus dilewati dan itu memiliki risiko yang tinggi. Sedangkan jika menggunakan PLN, jika terjadi listrik mati, warga cukup mengundang PLN ke rumah untuk memperbaikinya.

Jika dibandingkan dengan PLTMH, sistem pembayaran PLN lebih mudah karena hanya menggunakan pulsa listrik. Sistem pembayaran PLTMH dikelola secara berkelompok dan yang bertanggung jawab atas kerusakan PLTMH adalah kelompok yang menggunakan PLTMH tersebut. Namun, biaya menggunakan PLN lebih mahal dibandingkan PLTMH. Rata-rata penggunaan PLN menghabiskan biaya sekitar Rp70.000,00 perbulan. Sementara itu, penggunaan PLTMH menghabiskan biaya sekitar Rp27.000,00 perbulan. Dengan biaya tersebut, warga dapat merasakan listrik untuk menghidupkan lampu tanpa batasan jumlah lampu yang digunakan. Jika ingin menghidupkan komputer, penanak nasi, mesin cuci, dan lain-lain masyarakat harus menambah Rp10.000,00 per unit.

Jadi, faktor yang menyebabkan masyarakat di Petungkriyono beralih ke PLN adalah mudahnya alat PLTMH rusak akibat cuaca, debit air suplai tergantung oleh musim, hingga sulitnya perawatan alat PLTMH. Sebenarnya, penggunaan PLTMH membuat masyarakat setempat lebih mandiri karena memanfaatkan potensi lokal. Potensi lokal berupa aliran air pun menjadi tidak sia-sia jika masyarakat menggunakan PLTMH. Namun, baik PLN maupun PLTMH memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pada akhirnya, saat ini masyarakat di Petungkriyono menggunakan PLN sebagai sumber energi listrik.

Sumber Air

Generator PLTMH

Kincir Air