SATU BUMI Sejarah Desa di Petungkriyono – SATU BUMI

SATU BUMI

Mahasiswa Penggiat Alam Bebas Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Sejarah Desa di Petungkriyono

February 29, 2020 by admin

Dikenal dengan nama ‘Kota Batik’, Pekalongan menyimpan kekayaan dan keberagaman tentang batik. Beberapa motif batik yang terkenal misalnya jlamprang, lion, dan semen. Selain keragaman batiknya, Pekalongan juga memiliki destinasi wisata alam yang menarik, misalnya air terjun atau curug, danau, dan pantai. Salah satu yang menjadi ikon wisata alam dan dikenal luas adalah wisata curug di Kecamatan Petungkriyono. Di sana terdapat Curug Lawe, Curug Bajing, Curug Muncar, dan sebagainya. Pesona Petungkriyono yang menyimpan banyak potensi akhirnya membawa kami, peserta SWADAYA XIII SATU BUMI Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, untuk menjelajah lebih jauh ke desa-desanya. Ada tiga desa yang kami kunjungi, yaitu Desa Simego, Songgodadi, dan Curugmuncar. Masing-masing desa tersebut memiliki sejarah yang menarik untuk ditelusuri, salah satunya adalah mengenai asal mula nama ketiga desa.

Asal mula nama Desa Simego berawal dari seorang pengembara asal Bali yang bernama Mbah Mungsi. Suatu ketika dalam perjalanannya, beliau merasa kelaparan. Mbah Mungsi lalu menemukan buah asam tembilungan yang memiliki rasa seperti nasi. Dalam bahasa Jawa, nasi disebut dengan sego. Kemudian terlintas sebuah ide dalam pikiran Mbah Mungsi, bahwa beliau ingin memberi nama tempat yang beliau singgahi tersebut dengan sebutan “Simego”. Simego berarti asam yang rasanya seperti sego (nasi).

Desa Curugmuncar dahulu merupakan kawasan hutan lindung yang terletak di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan. Menurut masyarakat setempat, kawasan tersebut pernah menjadi tempat peperangan dengan penjajah. Terdapat sepasang suami istri melarikan diri ke hutan lindung tersebut. Mereka kemudian memulai hidup baru dengan membuka lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena kodratnya manusia memenuhi naluri untuk meneruskan keturunan, lama-kelamaan jumlah mereka semakin banyak. Akhirnya wilayah yang tadinya hutan berubah menjadi sebuah desa. Desa tersebut dinamakan Curugmuncar karena pada sebelah selatan desa wilayah itu terdapat air terjun yang muncar-muncar atau dalam bahasa Indonesia berarti muncrat-muncrat.

Tidak hanya Desa Simego dan Curugmuncar saja yang memiliki sejarah; Desa Songgodadi pun memiliki kisahnya sendiri. Desa Songgodadi adalah sebuah desa yang terletak di bawah Desa Simego. Letaknya sekitar tiga kilometer dari Simego dan memakan waktu sekitar 1 setengah jam jika berjalan kaki dari Simego. Asal mula dan legenda nama desa Songgodadi dimulai dengan cerita tentang sebuah batu besar yang dulunya berada di atas bukit dan di bawahnya terdapat sebuah desa. Suatu malam, terjadi badai angin yang besar dan menggoyangkan batu tersebut hingga jatuh menuju desa tersebut. Anehnya setelah diteliti, tidak ada bekas jalur batu yang melintas menuju desa tersebut, yang ada hanyalah sebuah batu yang tiba-tiba menimpa desa tersebut. Konon katanya, batu tersebut hanya akan bergerak ketika malam berkabut dan diam ketika suasana siang dan ramai. Batu besar tersebut sekarang masih ada di Desa Songgodadi dan konon katanya para sesepuh bisa membuka pintu menuju dimensi lain menggunakan batu tersebut.

Desa Songgodadi

Desa Simego